tugas kuliah perilaku konsumen

Kelompok 8

1. A. Nur Rahmah K. I14080013

2. Gita Wahyu A. I14080025

3. Azni Ratnarosada P. I14080027

4. Alna Hotama I14080031

5. Rohadi I14080073

6. Trikorian Adesanjaya I14080093

7. Dewanti Putri Pratiwi I14080111

8. Radini Ayu Pratiwi I34080034

Soal:

1. Apa itu karakteristik demografi ekonomi dan sosial konsumen?
2. Kenapa penting mempelajari karakteristik demografi ekonomi dan sosial konsumen?
3. Apa perbedaaan demografi dan sub budaya?
4. Kapan kita perlu mengetahui detail demografi dan subbudaya? Mengapa penting?
5. Gambarkan perbedaan-perbedaan sikap, persepsi, perilaku yang diamati karena adanya subbudaya?
6. Mengapa data-data demografi dikumpulkan ke pemerintah dan mengapa tiga variabel usia, pendidikan, dan pekerjaan, serta lokasi geografi penting dikumpulkan?
7. Mengapa setiap warga Negara harus mengikuti pendiidkan yang tinggi ?
8. Bagaimana anda melihat anak sebagai konsumen ? mengapa anak menjadi konsumen yang potensial ?
9. Bagaimana anda melihat remaja sebagai konsumen ? mengapa remaja menjadi konsumen yang potensial ?
10. Mengapa pendapatan, pengeluaran, dan kredit konsumen serta kartu kredit merupakan karakteristik ekonomi yang sangat penting?
11. Apa yang dimaksud kelas sosial? Mengapa kelas sosial penting dari segi ekonomi dan bisnis?
12. Indikator apa yang mudah untuk melihat atau membedakan seseorang masuk kelas sosial yang mana?
13. Bagaimana pandangan anda tentang kelas sosial mashasiswa IPB?
14. Bagaimana pola konsumsi, persepsi, dan sikap mahasiswa IPB yang termasuk kelas sosial atas?

Jawaban:

1. Karakteristik demografi adalah ciri yang menggambarkan perbedaan masyarakat berdasarkan usia, jenis kelamin, pekerjaan, pendidikan, agama, suku bangsa, pendapatan, jenis keluarga, status pernikahan, lokasi geografi, dan kelas sosial. Karakteristik ekonomi merupakan ciri yang menggambarkan perbedaan masyarakat berdasarkan perbedaan pendapatan, pengeluaran, dan kredit. Karakteristik sosial adalah ciri yang menggambarkan perbedaan masyarakat berdasarkan status pekerjaan, hubungan sosial, dan kekuasaan.
2. Karakteristik demografi ekonomi dan sosial konsumen penting untuk dipelajari karena pihak produsen dapat mengetahui dengan pasti segmentasi pasar yang cocok untuk produknya. Seperti apakah produknya dapat dipasarkan dan diterima oleh orang yang tinggal di kota atau di desa, oleh anak-anak atau orang dewasa, dan oleh golongan menengah ke bawah atau golongan menengah ke atas.
3. Demografi merupakan sesuatu yang menggambarkan karakteristik masyarakat yang dapat membagi masyarakat ke dalam beberapa sub budaya. Sedangkan sub budaya merupakan bagisn dari budaya yang tumbuh dari kelompok-kelompok dalam masyarakat yang dipengaruhi oleh adanya perbedaan karakteristik sosial, ekonomi, serta demografi.
4. Detail demografi dan subbudaya perlu diketahui ketika pemasar akan menentukan segmentasi pasar produknya. Hal ini penting agar pemasar dapat mengetahui pasar mana yang potensial dan sesuai dengan karakteristik produk yang akan dipasarkan.
5. Perbedaan sikap, persepsi, dan perilaku yang timbul akibat adanya subbudaya dapat dilihat pada konsumen yang beragama islam dan konsumen yang beragama selain islam mengenai pandangan terhadap daging babi. Konsumen yang beragama islam tidak akan mengkonsumsi daging babi karena dalam ajaran agama Islam daging babi haram untuk dimakan. Sementara untuk agama selain islam daging babi boleh dimakan. Selain itu, perbedaan juga dapat dilihat laki-laki yang cenderung lebih memilih untuk membeli makanan dengan porsi yang banyak dibandingkan dengan wanita yang cukup dengan porsi kecil atau sedang.
6. Data-data demografi dukumpulkan kepada pemerintah agar pemerintah memiliki data yang lengkap dan mengetahui karakteristik penduduk. Hal ini penting untuk menentukan arah kebijakan sebagai upaya perlindungan konsumen. Variabel usia, pendidikan, pekerjaan, dan letak geografi penting untuk dikumpulkan karena variabel-variabel tersebut mempengaruhi pola perilaku konsumen melalui perbedaan-perbedaan sikap dan persepsi yang ditimbulkan.
7. Karena dalam undang-undang, setiap warga Negara Indonesia berhak untuk mendapatkan atau mengikuti pendidikan setinggi-tingginya. Sesuai dengan Al Qur’an Surat Al Mujaadilah : 11. “ Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan “. Pendidikan yang tinggi juga saling berhubungan dengan jenis pekerjaan yang akan dilakukan oleh konsumen dan mempengaruhi terhadap pendapatan serta daya beli konsumen tersebut. Selain itu, tingkat pendidikan mempengaruhi nilai-nilai yang dianutnya, cara berpikir, cara pandang bahkan presepsinya terhadap suatu masalah.
8. Sejak lahir kedunia, seorang manusia telah menjadi konsumen. Masa anak-anak merupakan masa pembentukan pertumbuhan yang baik serta perilaku konsumennya dipengaruhi oleh orang-orang disekitarnya misalnya orangtua, teman, iklan, pengasuh. Sehingga anak dapat dikategorikan sebagai konsumen potensial. Anak – anak memiliki kebutuhan yang sangat tinggi maka orang tua berusaha untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Anak – anak juga mudah terpengaruhi oleh iklan yang menarik dan memiliki rasa ingin memiliki yang tinggi
9. Pada umunya remaja memandang kehidupan sesuai dengan sudut pandangnya sendiri, yang mana pandangannya itu belum tentu sesuai dengan pandangan orang lain dan juga dengan kenyataan. Selain itu, bagaimana remaja memandang segala sesuatunya bergantung pada emosinya sehingga menentukan pandangannya terhadap suatu objek psikologis. Umumnya, emosi remaja belum stabil. Secara psikososial terlihat perkembangan remaja pun memandang dan menghadapi hal-hal yang berhubungan dengan peran mereka sebagai konsumen. Seiring perkembangan biologis, psikologis, sosial ekonomi tersebut, remaja memasuki tahap dimana sudah lebih bijaksana dan sudah lebih mampu membuat keputusan sendiri. Hal ini meningkatkan kemandirian remaja, termasuk juga posisinya sebagai konsumen. Remaja memiliki pilihan mandiri mengenai apa yang hendak dilakukan dengan uangnya dan menentukan sendiri produk apa yang ingin ia beli. Namun di lain pihak, remaja sebagai konsumen memiliki karakteristik mudah terpengaruh, mudah terbujuk iklan, tidak berpikir hemat, kurang realistis. Dalam kaitannya dengan perilaku remaja sebagai konsumen potensial, walaupun sebagian besar tidak memiliki penghasilan tetap, tetapi ternyata mereka memiliki pengeluaran yang cukup besar. Sebagian besar remaja belum memiliki pekerjaan tetap karena masih sekolah. Namun, para pemasar tahu bahwa sebenarnya pendapatan mereka tidak terbatas, dalam arti bisa meminta uang kapan saja pada orang tuanya.
10. Pendapatan, pengeluaran, dan kartu kredit merupakan karakteristik ekonomi yang sangat penting karena pendapatan adalah sumber daya material yang sangat penting bagi konsumen. Karena dengan pendapatan itulah konsumen dapat membiayai kegiatan konsumsinya. Pendapatan konsumen akan menjadi indikator penting besarnya jumlah produk yang bisa dibeli konsumen. Namun, data pendapatan seringkali tidak akurayt sehingga banyak peneliti yang menggunakan metode lain dalam mengukur pendapatan seorang konsumen atau rumah tangga yaitu dengan pendekatan pengeluaran konsumen atau rumah tangga. Pendapatan bukanlah satu-satunya sumber daya ekonomi konsumen. Kredit dan kartu kredit merupakan sumber daya ekonomi.
11. Kelas sosial adalah pembagian masyarakat ke dalam kelas-kelas yang berbeda atau strata yang berbeda yang menggambarkan perbedaan pendidikan, pendapatan, pemilikan harta benda, gaya hidup, nilai-nilai yang dianut dan selanjutnya perbedaan tersebut akan mempengaruhi konsumsi seseorang atau keluarga. Kelas sosial penting dalam segi ekonomi dan bisnis karena kelas sosial digunakan oleh produsen dalam menentukan segmentasi suatu produk barang atau jasa. Sebagai contoh, produsen kendaraan BMW cenderung membidik konsumen dengan kelas sosial atas.
12. Indikator yang dapat digunakan untuk melihat seseorang masuk dalam kelas sosial tertentu adalah pendapatan dan pola konsumsi atau gaya hidup. Seseorang dengan pendapatan yang tinggi disertai pola konsumsi dan gaya hidup yang mewah cenderung akan menggunakan atau mengkonsumsi barang dan jasa dengan brand atau merek tertentu.
13. Menurut kelompok kami, mahasiswa IPB terbagi atas berbagai lapisan kelas sosial yang meliputi kelas sosial atas, kelas sosial menengah, dan kelas sosial bawah. Kami menyimpulkan hal tersebut berdasarkan gaya hidup, pola konsumsi, dan uang kiriman per bulan.
14. Mahasiswa IPB dengan kelas sosial atas memiliki persepsi dan sikap tertentu terhadap suatu barang atau jasa yang akan dikonsumsi oleh mereka. Mereka cenderung memiliki pola konsumsi yang mewah antara lain menggunakan kendaraan beroda empat (mobil) di wilayah kampus, menggunakan pakaian, sepatu, dan aksesoris dengan brand tertentu, sering mengunjungi pusat perbelanjaan dan hiburan.

April 29, 2011 at 2:35 pm Tinggalkan komentar

BUDAYA

Budaya adalah segala nilai, pemikiran, symbol yang mempengaruhi perilaku, sikap, kepercayaan, dan kebiasaan seseorang dan masyarakat. Budaya bukan hanya yang bersifat abstrak seperti nilai, pemikiran dan kepercayaan; budaya dapat berbentuk objek material. Objek material dari budaya disebut sebagai artifak budaya atau manifestasi material dari sebuah budaya.
Sikap dan Perilaku yang Dipengaruhi Oleh Budaya
Engel, Blackwell dan Miniard (1995) menyebutkan 10 sikap dan perilaku yang sangat dipengaruhi oleh budaya, yaitu :
1. Kesadaran diri dan ruang
2. Komunikasi dan bahasa
3. Pakaian dan penampilan
4. Makanan dan kebiasaan makan
5. Waktu dan kesadaran akan waktu
6. Hubungan keluarga, organisasi, dan lembaga pemerintah
7. Nilai dan norma
8. Kepercayaan dan sikap
9. Proses mental dan belajar
10. Kebiasaan kerja
Unsur-unsur Budaya
1. Nilai (Value) adalah kepercayaan atau segala sesuatu yang dianggap penting oleh seseorang atau suatu masyarakat. Nilai berate sebuah kepercayaan tentang suatu hal, namun nilai bukan hanya kepercayaan.
2. Norma (Norms) adalah aturan masyarakat tentang sikap baik dan buruk, tindakan yang boleh dan tidak boleh. Norma dibagi mejadi dua, pertama adalah norma (enacted norms) yang disepakati berdasarkan aturan pemerintah dan ketatanegaraan. Kedua norma (cresive norm) yang ada dalam budaya dan dapat dipahami serta dihayati orang tersebut berinteraksi dengan orang-orang dari budaya yang sama. Jenis cresive norms diantaranya adalah: kebiasaan, larangan, konvensi, mitos, dan symbol.
Pengaruh Budaya Terhadap Perilaku Konsumen
Produk dan jasa memainkan peranan yang sangat penting dalam mempengaruhi budaya, karena produk mampu membawa pesan makna budaya. Makna budaya akan dipindahkan ke produk dan jasa, dan produk kemudian dipindahkan ke konsumen. Makna budaya atau makna simbolim yang telah melekat kepada produk akan dipindahkan kepada konsumen dalam bentuk pemilikan produk (possession ritual), pertukaran (exchange ritual), pemakaian (grooming ritual), dan pembuangan (divestment ritual).
Budaya Populer
Mowen dan Minor (1998) mengartikan budaya popular sebagai budaya masyarakat banyak. Beberapa jenis budaya popular diuraikan berikut :
1. Iklan : dalam bentuknya seperti iklan media cetak (koran, majalah, dsb) telah menjadi cirri masyarakat modern.
2. Televisi : medium iklan yang paling banyak digunakan oleh para produsen karena jangkauannya yang luas dan kemampuan audio visualnya dalam menyampaikan iklan.
3. Musik : music telah menjadi budaya popular yang sangat penting, karena konsumen Indonesia sangat terbuka dalam menerima segala jennies musik.
4. Radio
5. Pakaian dan aksesoris
6. Permainan
7. Film
8. Computer
Budaya dan Strategi Pemasaran
Selama berabad-abad, bangsa Indonesia telah memiliki budaya untuk menggunakan tumbuh-tumbuhan local untuk merawat kecantikan, menjaga kebugaran tubuh, dan menyembuhkan berbagai penyakit. Jamu adalah obat tradisional masyarakat Indonesia khususnya Jawa yang telah dikonsumsi selama puluhan abad. Inilah salah satu contoh bagaimana pemahaman terhadap budaya suatu masyarakat bisa memberikan inspirasi untuk mengembangkan suatu produk industry.

April 27, 2011 at 2:23 pm Tinggalkan komentar

Tugas pertama yang berasal dari lubuk hati yang terdalam #edisi lebay

Refleksi Diri yang Menyangkut Latar Belakang Nilai-Nilai Keluarga, Persepsi Nilai Gender dan Cita-Cita Masa Depan

Radini Ayu Pratiwi merupakan nama yang diberikan oleh kedua orang tua saya, namun nama tersebut dibuatkan oleh kakek saya. Radini merupakan gabungan dari nama ibu (Ra), ayah (Di) dan bidan (Ni) yang membantu saya hadir di dunia ini. Sedangkan nama ayu berarti cantik yang berasal dari bahasa jawa dan pratiwi berarti putri pertama. 20 tahun yang lalu tepatnya pada hari Kamis, 28 Maret 1991 saya lahir kedunia ini setelah tumbuh dan berkembang dalam rahim ibu saya selama sembilan bulan lamanya.
Hari demi hari berlalu saya pun mengalami perubahan dan perkembangan. Hingga pada bulan Maret 2011 usia saya genap 20 tahun, dengan usia yang telah menginjak masa awal dewasa. Di usia ini satu persatu impian saya terwujud, salah satunya dapat melanjutkan studi di perguruan tinggi yaitu di Institut Pertanian Bogor tepatnya di Departemen Sains Komunikasi dan Pengembagan Masyarakat. Program studi yang saya jalani memberikan banyak ilmu pengetahuan mengenai masyarakat lebih jauh. Selain itu saya juga berkesempatan untuk mengenal teman-teman dari luar daerah, serta mengetahui kebudayaan mereka masing-masing sehingga pengalaman hidup saya dapat bertambah.
Saya sendiri berasal dari kota mochi yaitu Sukabumi, namun saya bukan berasal dari suku sunda asli. Ayah saya berasal dari semarang dan ibu saya berasal dari Bogor. Saya lahir dan besar di Sukabumi dan saya menganggap saya terbiasa dengan menyebut diri saya suku sunda. Tinggal di Bogor tidak menyulitkan karena saya sudah terbiasa tinggal di lingkungan suku Sunda. Kebudayaan yang tidak berbeda jauh tidak membuat saya merasa asing dan jauh dari kampung halaman.
Bisa dikatakan kuliah dan tinggal di Bogor sangat memungkinkan saya untuk tidak mandiri dan bisa pulang pergi. Namun hal tersebut bertolak belakang dengan kenyataannya. Saya lebih sering tinggal di Bogor dan jarang sekali pulang kerumah. Karena kegiatan saya pada hari libur akhir pekan sangatlah padat.
Di Bogor saya tinggal di kos-kosan milik bibi saya di Babakan Lio no 9 RT 01/07 desa babakan Dramaga Bogor. Kosan saya berisi enam orang anak S1 yang kebetulan satu angkatan dengan saya dan satu anak S2. Walaupun kos-kosan kami sederhana namun kesan kekeluargaannya sangatlah hangat dan dekat. Sehingga saya betah walaupun harus jauh dari rumah. Perbedaan sikap dan kebudayaan dari masing-masing penghuni membuat saya bisa lebih belajar menghargai perbedaan diantara masing-masing pribadi seseorang dan menganngap mereka seperti keluarga saya sendiri.
Keluarga saya sendiri terdiri dari Ayah, Ibu dan dua adik saya. Ayah saya kini berumur 50 tahun dan ibu saya berumur 42 tahun. Saya terpaut usia yang sangat jauh dengan adik saya, adik yang pertama kini berumur 12 tahun dan adik yang ke dua berumur 5 tahun. Saya berasal dari keluarga yang sangat sederhana. Di usianya yang sekarang ayah saya masih harus membanting tulang untuk memenuhi kebutuhan keluarga juga membiayai sekolah saya sebagai karyawan swasta. Begitu pula ibu yang kini menjadi guru honorer di sebuah taman kanak-kanak. Penghasilan mereka perbulan sebesar 2 juta rupiah. Walaupun begitu kami dapat belajar bersyukur lebih banyak atas berkah dan kenikmatan yang hingga kini masih diberikan kepada keluarga kami.
Saya sangat berbahagia bisa hadir dalam keluarga yang sangat sederhana namun kaya akan kasih sayang serta memiliki keunikan tersendiri dalam mengungkapkan perhatiannya. Semua anggota keluarga saya tidak menampakkan perhatian mereka secara terang-terangan. Ayah saya yang otoriter dalam menjalani perannya sebagai kepala rumah tangga jarang sekali menanyakan kabar maupun kegiatan anak-anaknya. Namun setiap kami juara kelas ataupun berulang tahun selalu ada keutan kecil, entah itu kado kecil disaat bangun tidur maupun mentraktir apa yang kami inginkan. Dengan reinforcement yang kami dapatkan dari ayah membentuk pribadi kami menjadi disiplin dalam melakukan sesuatu hal. Berbeda dengan ayah, ibu kadang kala menjadi tempat kami berlindung dari ketegasan ayah. Ibu memiliki sikap pendiam dan terkesan ‘legowo’ namun dibalik itu semua ia memiliki ‘power of mom’ dalam mendidik anak-anaknya. Ibu tak pernah menuntut dan memaksakan kehendak kepada anak-anaknya. Ia selalu mendukung apa yang menurut kami dan ibu adalah terbaik untuk semua. Ibu juga bukanlah orang yang dapat mengungkapkan rasa sayangnya secara langsung, hal kecil yang masih selalu saya ingat adalah setiap ia selesai ‘curhat’ malam ia selalu menciumi kening anak-anaknya hingga sekarang. Dari ibu saya belajar kesabaran dalam menghadapi segala hal dan memandang masalah dari berbagai sudut pandang, meskipun terkadang sikap perfeksionis dari ayah masih terbawa namun saya selalu berusaha menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
Saya adalah saya, tidak bisa disamakan dengan orang lain karena setiap masing-masing individu memiliki kepribadian yang unik. Saya dibesarkan di keluarga yang ‘implisit’ dalam mengungkapkan sesuatu. Namun hal tersebut membentuk sikap pribadi saya yang lebih suka mengutarakan sesuatu secara langsung dibandingkan dengan hanya menyiratkannya saja. Saya adalah tipe orang yang sanguinis terkadang saya menjadi kritis dalam mengomentari suatu hal yang bertujuan untuk merubah hal tersebut mejadi lebih baik lagi. Saya masih memiliki kesulitan dalam hal mengucapkan kata tidak untuk orang yang meminta pertolongan karena rasa kasihan saya yang tinggi. Selain itu saya memiliki sifat ‘moody’ jika perasaan saya sedang buruk saya lebih suka menenangkan hati dengan mandi. Jika saya sedang berada di dalam tekanan saya akan lebih sering mandi atau berlama-lama di kamar mandi bahkan hanya bermain air dan memandangi air dalam bak mandi agar fikiran saya kembali tenang hingga banyak teman saya yang menjuluki saya si tukang mandi.
Dalam kehidupan sosial, saya memiliki hubungan sosial yang cukup baik dengan orang tua, keluarga, sahabat maupun teman. Walaupun saya tinggal jauh dengan mereka namun saya tetap menjalin komunkasi melalui handphone. Baik itu dengan menelpon maupun sms. Agar mereka mengetahui keadaan saya dan begitu pula sebaliknya. Selain dengan handphone kini komunikasi dapat dilakukan melalui jejaring sosial seperti facebook yang dapat menyampaikan apa yang sedang kita fikirkan, menyapa teman lama ataupun melakukan obrolan. Selain facebook kini ada akun twitter, yahoo messenger dan skype yang saya gunakan untuk menunjang komunikasi saya dengan orang banyak karena saya sangat senang jika dapat teman banyak karena dapat berbagi pengalaman lebih banyak pula.
Berkeluarga merupakan suatu pengambilan keputusan yang tepat bagi seorang individu, karena dengan memiliki keluarga kita bisa saling berbagi kasih sayang, perhatian, pembelajaran tentang hidup, kedewasaan dan kebahagiaan. Keluarga adalah harta yang bernilai tinggi bagi saya. Motivasi, kasih sayang, perhatian, dan masih banyak lagi yang bisa didapatkan dalam sebuah keluarga. Dengan berkeluarga, kita bisa belajar cara berkomunikasi yang baik antar anggota keluarga, baik suami-istri maupun orangtua-anak. Orangtua saya sering menyampaikan pentingnya sebuah keluarga, jika tidak ada keluarga serasa apa yang kita lakukan itu tak berarti, karena tidak ada orang-orang yang menemani kita dan mau berbagi dengan tulus dan tanpa pamrih, ibu saya pernah mengatakan kelak ketika saya telah berkeluarga, saya harus mampu menjaga keharmonisan keluarga dan berusaha memberikan yang terbaik untuk anggota keuarganya.
Sebagai perempuan, saya memiliki impian mendapatkan pasangan hidup yang dapat membahagiakan saya secara lahir dan batin. Namun, untuk mendapatkan hal itu, tentunya saya harus menjadi perempuan yang dapat membahagiakan pasangan saya kelak karena bila kita menginginkan sesuatu, maka kita harus melihat diri kita sendiri sudah sebaik mana dan sepantas mana untuk mendapatkan hal yang kita inginkan dengan kata lain kita harus merefleksikan diri terlebih dahulu tentang hal yang ada dalam diri kita. Perempuan memang selalu ingin dimengerti. Namun, menjadi seorang perempuan adalah hal yang membanggakan bagi saya, karena perempuanlah yang melahirkan para jagoan tangguh, perempuanlah yang mengalami kehamilan, perempuanlah yang lebih berperasaan, perempuanlah yang mampu menahan sakit ketika ia disakiti, perempuanlah yang lebih mampu mengendalikan emosinya, perempuanlah yang menerbitkan terang dalam kegelapan, perempuan yang lebih peduli, perempuan selalu berusaha memahami orang disekitar, perempuanlah yang bisa menjadi penenang kegundahan para lelaki dan perempuanlah yang berada dibalik lelaki hebat. Ibu saya pernah mengatakan menjadi perempuan itu harus bisa menjaga kodratnya sebagai perempuan.
Suatu saat nanti, ketika saya sudah menikah, hal yang paling saya tunggu adalah masa kehamilan, karena saya akan merasakan perasaan seorang perempuan yang akan menjadi seorang ibu. Bagi saya, menjadi seorang ibu adalah sebuah anugerah, karena saya dapat memiliki buah hati dapat menjadi tempat mencurahkan kasih sayang. Ibu menjadi sumber utama kasih sayang yang tulus untuk anaknya, tidak pernah meminta imbalan akan apapun yang diberikan kepada anaknya. Menjadi ibu adalah sebuah kepercayaan dan tantangan yang diberikan Allah, kepercayaan dan tantangan bahwa ibu dapat mengasuh dan membesarkan anaknya dengan baik, memunculkan generasi-generasi penerus yang tangguh dan dahsyat. Ketika saya menceritakan hal ini kepada ibu saya ia mengatakan bahwa menjadi seorang ibu itu harus sabar, jangan mudah naik pitam apalagi jika anaknya aktif, akan membuat ibu lelah mengasuh dan menemani anak sehari-hari, tapi itu adalah kenikmatan yang harus disyukuri.
Untuk dapat mengasuh dan merawat anak dengan baik, tentunnya dibutuhkan perekonomian keluarga yang baik. Hal ini bisa dicapai jika anggota keluarga memiliki sumber pendapatan yang baik, khususnya seorang suami. Namun, bukan berarti istri berdiam diri. Tidak ada salahnya jika seorang istri membantu perekonomian keluarganya agar kesejahteraan hidup bisa tercapai. Jika dilihat dengan konteks sebagai perempuan, pekerjaan adalah suatu wadah aktualisasi diri, kita dapat memerlihatkan potensi yang dimiliki melalui pekerjaan dan mencapai kepuasan pribadi yang bersangkutan. Jika dilihat dari konteks sebagai seorang istri dan ibu, pekerjaan adalah bukan hanya sebagai wadah aktualisasi diri, melainkan sebagai usaha untuk mempertahankan hidup dan mencapai kesejahteraan yang ingin dicapai dalam keluarga, karena beda keadaan dan kebutuhan antara seorang perempuan yang telah menikah dan memiliki anak. Tentu saja, kebutuhan perempuan yang sudah menikah dan memiliki anak lebih besar daripada perempuan yang masih melajang. Bahkan perempuan yang sudah menjadi seorang ibu rela melakukan apapun untuk kebahagiaan anaknya. Ketika saya menyampaikan bahwa kelak saya ingin menjadi ibu dan juga wanita karir, orangtua saya menasehati agar memilih pekerjaan yang tidak menguras waktu dan tenaga sehingga urusan keluarga terbengkalai. Pilih pekerjaan yang saya suka dan nyaman melakukanya. Sesibuk apapun saya nanti, keluarga harus menjadi prioritas utama, harus ada waktu luang dan perhatian yang diberikan untuk keluarga, terutama anak yang masih benar-benar membutuhkan pengasuhan dari ibunya.
Anak adalah harta yang paling berharga bagi orangtua. Seorang anak merupakan motivator atau penyemangat untuk kedua orangtuanya. Anak bahkan menjadi kunci keharmonisan bagi pasangan suami-istri yang telah memiliki anak. Suatu hari saya dikejutkan dengan nasihat ayah, ia menyampaikan bahwa anak adalah bintang harapan yang akan menerangi keluarganya, harus dijaga dengan baik dan dirawat agar pancaran sinarnya semakin terang dan hangat. Mungkin terlalu puitis, tapi memang itulah harapan ayah pada anaknya, menjadi penerus keluarga yang akan memperbaiki kehidupan keluarganya dari berbagai aspek. Ibu pernah menyampaikan bahwa anak merupakan penyemangat untuk bekerja, ketika ibu merasa lelah maka ibu akan mengingat anaknya, setelah itu semangat ibu kembali dan rasa lelah pun pergi. Dengan demikian, sebagai anak saya ingin selalu memberikan senyum bangga dan senyum rasa terima kasih untuk kedua orangtua saya.
Jika mengingat nasehat-nasehat dari kedua orangtua saya tersebut, yang terlintas dibenak saya adalah lakukan nasehat dan pesan itu untuk menjalani kehidupan, khususnya untuk menggapai cita-cita. Setelah lulus nanti sebenarnya saya ingin melanjutkan kuliah S2 di luar negeri dengan cara mencari beasiswa, namun hal yang akan saya lakukan terlebih dahulu adalah menjalani tugas saya sebagai seorang anak sulung. Saya akan menggantikan ayah saya menjadi tulang punggung keluarga dan membiayai adik-adik saya hingga mereka menempuh perguruan tinggi. suatu saat nanti jika saya mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan saya ke jenjang yang tinggi maka saya akan memanfaatkannya sebaik mungkin. Selain itu, harapan yang paling ingin terwujud adalah bisa melanjutkan pendidikan S2 di salah satu negara yang saya suka yaitu Jerman, Amerika, atau negara-negara Eropa.
Lain lagi dalam hal berkeluarga, cita-cita saya adalah memiliki keluarga yang harmonis dengan keunikkan individu-individu di dalamnya. Saya ingin menikah di usia maksimal 25 tahun dan memiliki suami yang sayang serta pengertian terhadap saya, begitu juga keluarganya. setelah menikah nanti, saya ingin memiliki dua orang anak mengikuti program keluarga berencana, satu orang anak laki-laki dan perempuan. Saya berharap bisa melahirkan anak kembar sekaligus. Saya ingin membangun komunikasi yang baik antar anggota keluarga dengan memilih gaya pengasuhan demokratis untuk anak-anak dan melayani suami dengan baik. Keterbukaan, rasa saling menghargai, kepedulian, kasih sayang dan kejujuran harus dibina dengan baik dalam keluarga saya nanti agar menghasilkan individu-individu yang baik budi pekertinya. Anak yang sholeh-soleha, patuh, cerdas, sopan, jujur, displin menjadi dambaan saya.
Untuk dapat mewujudkan impian-impian saya dalam bekeluarga, tentunya harus didukung dengan maksimalisasi peran orang-orang yang terlibat di dalamnya. Sebagai perempuan, istri dan seorang ibu, saya harus bisa memposisikan diri dengan baik. Saya harus bisa melayani suami, mengasuh anak, dan menyelesaikan pekerjaan rumah dengan baik. Tetapi perempuan bukanlah objek yang bisa dimanfaatkan semena-mena, perempuan dan laki-laki dilahirkan dengan memiliki potensi yang sama, maka mereka punya kesempatan yang sama untuk mencapai hal yang diinginkan. Namun, tetap saja harus saling menghargai. Perempuan boleh bekerja keras untuk mencapai cita-citanya, tapi perempuan tidak boleh melupakan kodratnya sebagai perempuan. Begitu pula laki-laki, mereka boleh menganggap bahwa mereka lebih berkuasa atas perempuan, tapi bukan berarti mereka bisa bertindak sewenang-wenang terhadap perempuan, mereka juga harus sadar bahwa mereka membutuhkan perempuan untuk melengkapi kehidupannya. Perempuan terlahir bukan untuk disakiti, tapi untuk disayangi.
Saya merasakan pembagian peran antara laki-laki dan perempuan sudah terlaksana dengan baik di keluarga saya, khususnya antara ibu dan ayah. Keduanya sama berusaha memanfatkan sumber daya yang mereka miliki untuk memperolek pendapatan yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Ayah dan ibu sama-sama bekerja. Sebenarnya ayah tidak meminta ibu untuk bekerja, namun ibu ingin membantu ayah untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, dan jika dua orang yang bekerja maka kesejahteraan finansial keluarga akan lebih cepat tercapai dibanding jika hanya satu orang saja yang bekerja. Ibu memilih menjadi pengajar di taman kanak-kanak. Meskipun demikian, ibu tetap mampu menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan rumah dan merawat anak dengan maksimal. Saya tidak pernah merasa kekurangan kasih sayang dan waktu dari ibu saya. Saya bangga dengan ayah saya, karena disela sela kesibukkannya bekerja, ayah masih sempat dan mau membantu ibu melakukan pekerjaan rumah bahkan mengasuh anak-anak, sehingga ibu dapat menyeselesaikan pekerjaan rumah dengan cepat. Seperti inilah yang saya inginkan jika saya sudah berkeluarga kelak. Saya dan suami saya bekerja untuk memenuhi kebutuhan dan kami pun menyelesaikan pekerjaan rumah dan mengasuh anak bersama-sama.

>> ini tugas apa curhatan yah?? hahahhaha😛

April 24, 2011 at 1:13 pm 1 komentar

Perilaku Konsumen : Proses belajar Konsumen

proses belajar konsumen dapat diartikan sebagai sebuah proses dimana sesorang memperoleh pengetahuan dan pengalaman pembelian dan konsumsi yang akan ia terapkan pada perilak7u yang terkait di masa depan.
Hal penting dari belajar
pertama belajar adalah suatu proses yang berkelanjutan. kedua pengalaman memainkan peran dalam proses belajar.
Syarat Proses belajar
1. Motivasi : daya dorong dari dalam konsumen dan mucul karena adanya kebutuhan dari konsumen tersebut.
2. Isyarat : stimulus yang mengarahkan motivasi tersebut.
3. respons : reaksi konsumen terhadap isyarat.
Pendorong atau Penguatan : sesuatu yang meningkatkan kecenderungan seorang konsumen untuk berperilaku pada masa depan karena adanya isyarat atau stimulus
Jenis – jenis Proses Belajar
1. Proses belajar kognitif : proses belajar yang dicirikan oleh adanya perubahan pengetahuan.
2. proses belajar perilaku : proses belajar ketika konsumen bereaksi terhaddap lingkungannya. proses belajar perilaku terbagi menjadi :
1. Classical conditioning : suatu teori belajar yang mengutarakan bahwa mahluk hidup adalah mahluk pasif yang bisa diajarkan perilaku tertentu melalui pengulangan.
2. Operant Conditioning : proses belajar yang terjadi pada diri konsumen akibat konsumen menerima imbalan yang positif atau negatif.
3. Observational Learning : proses belajar yang dilakukakn konsumen ketika ia mengamati tindakan dan perilaku orang lain dan konsekkuensi dari perilaku tersebut.

Maret 26, 2011 at 12:58 am Tinggalkan komentar

Perilaku Konsumen : Pengolahan Informasi dan Persepsi Konsumen

pengolahan informasi terjadi pada diri konsumen ketika salah satu konsumen menerima input dalam bentuk stimulus yang dapat berbentuk produk, nama merek, kemasan dll.
Persepsi (Gibson et. al 1996)
Proses dari seseorang dalam memahami lingkungannya yang melibatkan pengorganisasian dan penafsiran sebagai rangsangan dalam suatu pengalaman psikologis.
Persepsi berperan dalam penerimaan rangsangan, mengaturnya dan menerjemahkan atau menginterpretasikan rangsangan yang sudah teratur itu untuk mempengaruhi perilaku dan membentuk sikap.

Tahapan Pengolahan Informasi
1. Pemaparan : menyebabkan konsumen sadar stimulus melalui panca indra. pemaparan terdiri dari Sensasi, Ambang Absolut, dan Ambang berbeda.
2. Perhatian : kapasitas pengolahan yang dialokasikan konsumen terhadap stimulus yang masuk. faktor stimulus dapat berupa : ukuran, warna, intensitas, kontras, posisi dll.
3. Pemahaman : interpretasi konsumen terhadap stimulus. ada tiga unsur : gambar dan latar belakang, pengelompokan, clossure.
4. penerimaan : dampak persuasif kepada konsumen.
Retensi : proses pemindahan informasi ke memori jangka panjang, pendek, memori sensori.

Maret 26, 2011 at 12:11 am Tinggalkan komentar

MPS : Evaluasi Program Pengembangan Koperasi Usaha Mikro Kecil dan Menengah sebagai Implementasi Program CSR

BAB I

1.1 Latar Belakang

Perusahaan sebagai pelaku dunia usaha adalah salah satu dari stakeholder pembangunan di Indonesia. Setiap perusahaan di Indonesia melakukan berbagai kegiatan terencana untuk mencapai tujuan khusus maupun tujuan umum yang telah mereka tentukan. Kegiatan-kegiatan yang direncanakan oleh perusahaan umumnya akan melibatkan berbagai macan pihak, baik dari dalam perusahaan itu sendiri maupun pihak luar seperti pemerintah, masyarakat dan sebagainya. Kerjasama yang dirajut untuk mencapai kepentingan perusahaan, agar perusahaan tetap menjaga eksistensinya.

Dalam rangka menjaga eksistensi suatu peusahaan, maka perusahaan itu harus dapat menjaga keseimbangan hubungan dengan pihak lain yang dapat mempengaruhi eksistensi dari perusahaan itu sendiri. keseimbangan dapat dijaga dengan melakukan Corporate Sosial Responsibility (CSR). Penerapan CSR merupakan komitmen dunia usaha untuk terus bertindak etis, beroperasi secara legal dan berkontribusi untuk peningkatan ekonomi, bersamaan dengan peningkatan kualitas hidup dari karyawan dan keluarganya sekaligus juga peningkatan kualitas komunitas local dan masyarakat secara luas (The World Business Council For Sustainable Development (WBCSD) dalam Wibisono, 2007). Sejalan dengan itu, Wibisono (2007) menjelaskan bahwa etika bisnis merupakan tuntutan perilaku bagi dunia usaha untuk bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang boleh dan mana yang tidak.

Telah banyak program CSR yang dilakukan oleh perusahaan – perusahaan dengan berbagai model yang dipraktikkan berdasarkan pemahaman mereka. Bentuk program yang sering menjadi pilihan dari perusahaan-perusahaan itu antara lain program bantuan kesehatan, pendidikan, bantuan dana dan pelatihan bagi usaha kecil, serta bantuan pembangunan sarana dan prasarana masyarakat.

Program CSR yang diterapkan perusahaan hendaknya mengandung unsur pengembangan masyarakat dengan menitikberatkan pada keberlanjutan. Perusahaan-perusahaan memiliki beragam pemahaman mengenai usaha pengembangan masyarakat yang berusaha diterapkan pada program CSR mereka. Untuk mempermudah penilaian keberhasilan suatu program pengembangan masyarakat dapat dilihat dari keberlanjutan penerapan program tersebut dan pencapaian tujuan dari program sesuai dengan prinsip-prinsip pengembangan masyarakat. Salah satu program pengembangan masyarakat dalam  upaya peningkatan perekonomian masyarakat serta membantu mamandirikan masyarakat yaitu program pengembangan koperasi dan pembinaan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM).

Peran perusahaan dalam pengembangan UMKM dapat dilakukan dengan memberikan bantuan sehingga UMKM tersebut dapat membentuk capacity building, financial support dan jalur pemasaran yang kuat. Peran UMKM di Indonesia menurut Sulisto (2005) sangat besar dan telah terbukti menyelamatkan perekonomian bangsa pada saat dilanda krisis ekonomi tahun 1997. Sebagian besar jumlah penduduk Indonesia berpendidikan rendah dan hidup dalam kegiatan usaha kecil baik di sector tradisional maupun modern. Pembinaan dan pengembangan tersebut sangat penting untuk menciptakan kemandirian dari UMKM mengingat besarnya peran UMKM bagi perekonomian nasional.

1.2 Perumusan Masalah

Hingga saat ini, banyak perusahaan di Indonesia yang telah mengimplementasikan CSR dalam menjalankan usahanya. Terlebih setelah pemerintah mengeluarkan beberapa kebijakan yang mengatur mengenai pelaksanaan CSR. Pemerintah mengeluarkan undang – undang No. 40 tahun 2007 tentang perseroan terbatas. Undang-undang ini menyebutkan bahwa perseroan yang menjalankan kegiatan usahanya di bidang dan atau berkaitan dengan suber daya alam wajib melaksanakan tanggung jawab social dan lingkungan.

Berdasarkan wujud nyata dari CSR yang telah dilakukan oleh perusahaan, maka dapat diangkat suatu penelitian mengenai tanggung jawab social yang terjadi pada perusahaan. Hal yang menarik perhatian untuk dikaji terkait hal tersebut dan dijadikan pertanyaan dalam penelitian ini adalah sejauh mana pelaksanaan CSR melalui program pengembangan koperasi dan peningkatan UMKM telah memberdayakan masyarakat? Hal ini penting diangkat dan dikaji karena untuk mengetahui apakah CSR yang dilakukan oleh perusahaan telah berbasiskan pengembangan masyarakat salah satunya dapat dilihat dari strategi pendekatan dan implementasi program CSR apakah melibatkan partisipasi aktif masyarakat ataukah tidak. Karena partisipasi masyarakat merupakan prasyarat utama dalam menyukseskan program pengembangan masyarakat.

Pelaksanaan CSR yang dilaksanakan oleh suatu perusahaan akan memiliki dampak kepada pihak-pihak yang terlibat. Dampak ini dapat terasa langsung atau tidak kepada pihak-pihak yang terlibat. Maka pertanyaan yang spesifik yaitu seberapa besar implementasi program pengembangan Koperasi dan peningkatan UMKM memberikan dampak terhadap masyarakat lokal serta bagi perusahaan? Pada penelitian ini pihak-pihak yang terlibat dalam pelaksanaan program CSR dan merasakan dampaknya dibatasi hanya perusahaan dan masyarakat saja. Karena dalam implementasi program CSR pengembangan masyarakat, perusahaan dan masyarakat adalah dua pihak yang terlibat penuh didalamnya. Namun pihak-pihak yang terlibat dalam pelaksanaan mencakup pemerintah lokal, lembaga keuangan mikro dan sebagainya.

1.3 Tujuan

Berdasarkan perumusan masalah yang telah dipaparkan diatas maka tujuan diadakan penelitian ini yaitu :

  1. Mengetahui sejauh mana pelaksanaan CSR melalui program pengembangan koperasi dan peningkatan UMKM telah memberdayakan masyarakat.
  2. Mengetahui seberapa besar implementasi program pengembangan Koperasi dan peningkatan UMKM memberikan dampak terhadap masyarakat lokal serta bagi perusahaan.

1.4 Kegunaan Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjado proses pembelajaran dan pengembangan UMKM sebagai bentuk CSR perusahaan. Serta dapat memberikan sumbangsih yang bermanfaat bagi berbagai pihak yang berminat maupun yang terkait dengan masalah CSR.

 

BAB II

2.1 Tinjauan pustaka

2.1.1.1  Definisi Corporate Social Responsibility

Definisi Corporate Social Responsibility (CSR) telah banyak ditemukan berbagai pihak. Konsep CSR banyak dijadikan rujukan oleh berbagai pihak sebagaimana yang dikemukakan oleh Wibisono (2007) mendefinisikan CSR sebagai tanggung jawab perusahaan kepada pemangku kepentingan untuk berlaku etis, meminimalkan dampak negative dan mamaksimalkan dampak positif yang mencakup aspek ekonomi, lingkungan, dan social (triple bottom line) dalam rangka mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan. Sementara Nursahid (2006) mendefinisikan CSR sebangai tanggung jawab moral suatu organisasi bisnis terhadap kelompok yang menjadi stakeholder-nya yang terkena pengaruh baik secara langsung ataupun tidak langsung dari operasi perusahaan.

Sukada, dkk (2006) mendefinisikan CSR sebagai segala upaya manajemen yang dijalankan entitas bisnis untuk mencapai tujuan pembengunan berkelanjutan berdasar pilar ekonomi, social, dan lingkungan, dengan meminimumkan dampak negative dan memaksimumkan dampak positif di setiap pilar. Sementara itu the World Business Council For Sustainable Development (WBCSD) menjelaskan bahwa CSR merupakan komitmen dunia usaha untuk terus bertindak etis, beroperasi secra legal dan berkontribusi untuk peningkatan ekonomi, bersamaan dengan peningkatan kualitas hidup dari karyawan dan keluarganya sekaligus juga peningkatan kualitas komunitas likal dan masyarakat secara luas.

2.1.1.2 Tahapan-Tahapan CSR

  1. Tahap Perencanaan

Tahap ini terdiri dari tiga langkah utama, yaitu Awareness Building, CSR Assesment, dan CSR Manual Building.

  1. pada tahap ini terdapat beberapa poin yang penting diperhatikan, yaitu pengorganisasian sumberdaya, penyusunana, pengerahan, pengawasan, pelaksanaan sesuai rencana, dan penilaian tingkat pencapaian tujuan.
  2. Tahap evaluasi perlu dilakukan secara konsisten dari waktu ke waktu untuk mengukur sejauh mana efektifitas penerapan CSR.
  3. Pelaporan diperlukan dalam rangka membangun system informasi baik untuk keperluan pengembilan keputusan maupun keperluan keterbukaan informasi material dan relevan mengenai perusahaan.

2.1.1.3 Implementasi CSR

Implementasi CSR di perusahaan dipengaruhi oleh beberapa faktor. Factor yang mempengaruhi diantaranya adalah komitmen pimpinannya, ukuran atau kematangan perusahaan, regulasi atau system perpajakan yang diatur pemerintah dan sebagainya (Wibisono, 2007). Merujuk pada Saidi dan Abidin (2004) dalam Suharto (2006), ada empat model atau pola CSR yang umumnya diterapkan oleh perusahaan di Indonesia, yaitu :

  1. Keterlibatan langsung. Perusahaan menjalankan program CSR secara langsung dengan menyelenggarakan sendiri kegiatan social atau menyerahka sumbangan kepada masyarakat tanpa perantara.
  2. Melalui yayasan atau organisasi social perusahaan. Perusahaan mendirikan yayasan sendiri di bawah perusahaan atau grupnya.
  3. Bermitra dengan pihak lain. Perusahaan menyelenggarakan CSR melalui kerjasama dangan lembaga social/organisasi non-pemerintah, instansi pemerintah, universitas atau media massa, abaik dalam mengelola dana maupun dalam melaksanakan kegiatan sosialnya.
  4. Mendukung atau bergabung dalam suatu konsorium. Perusahaan turut mendirikan, menjadi anggota atau mendukung suatu lembaga social yang didirikan untuk tujuan social tertentu.

2.1.2 Konsep Koperasi

Pengertian koperasi secara ekonomi adalah kerjasama para anggota untuk memenuhi kebutuhan bersama. Istilah “koperasi” di Indonesia secara legal pertama dikenal dalam undang-undang No.79 tahun 1958, yang merubah kata “kooperasi” menjadi ‘koperasi”. Dalam UU No.12 tahun 1967 tentang pokok-pokok perkoperasian disebutkan “ Kopeasi Indonesia adalah organisasi ekonomi rakyat yang berwatak social beranggotakan orang-orang atau badan-badan hokum koperasi yang merupakan tata susunan ekonomi sebagai usaha bersama berdasarkan atas asas kekeluargaan”.

Koperasi berbeda dengan organisasi usaha pada umumnya. Meskipun, menurut prinsip-prinsip koperasi (cooperative principle) atau sendi-sendi dasar koperasi, masalahnya dalam UU No.12 tahun 1967, koperasi dapat berupa organisasi masyarakat atau perusahaan. Perbedaannya adalah: dari segi organisasi anggotanya merupakan orang-orang dengan kepentingan yang sama, anggota bebas keluar masuk, dan kekuasaan dirapat anggota bukan pada pemilik usaha. Tidak sebagaiman di perusahaan yang pemimpinnya sentralistis, pada koperasi dikenal “tritunggal kepemimpinan” yang terdiri dari rapat anggota, pengurus dan manajer.

2.1.3 Konsep Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM)

Pengertian Usaha Mikro Kecil dan Mengengah menurut UU RI No.20 Tahun 2008 Tentang Usaha Mikro, kecil da  Menengah adalah :

  1. Usaha Mikro adalah usaha produkif milik orang, perorangan dan/atau badan usaha perorangan yang memenuhi criteria Usaha MIkro sebagaimana diatur UU ini.
  2. Usaha Kecil adalah usaha akonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang, perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau bukan cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai atau menjadi bagian baik langsung dari usaha mengengah atau uasaha besar yang memenuhi kriteria usaha kecil sebagaimana yang dimaksud UU ini.
  3. Usaha Menengah adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang, perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau bukan cabang perusahaan yang dimiliki atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak dari usaha kecil atau usaha besar dengan jumlah kekayaan bersaih atau hasil penjualan tahunan sebagaimana diatur UU ini.

2.2 Kerangka pemikiran

Implementasi CSR yang dilakukan oleh suatu perusahaan akan berdampak pada perusahaan itu sendiri dan pada masyarakat local. Dampak yang dapat dirasakan oleh masyarakat diantaranya adalah peningkatan perekonomian dan program yang berkelanjutan. Sedangkan dampak yang akan dirasakan oleh perusahaan adalah peningkatan citra perusahaan di mata masyarakat.

 

2.3 Hipotesa

  1. Implementasi CSR perusahaan diduga memberikan dampak meningkatkan citra perusahaan dimata masyarakat dan memberikan dampak kepada masyarakat salahsatunya berupa program yang berkelanjutan.
  2. Implementasi CSR dalam pengembangan UMKM dapat meningkatkan perekonomian masyarakat dan dapat meningkatkan kesejahteraan dan kemandirian masyarakat.

2.4 Definisi konseptual

  1. Implementasi CSR : pelaksanaan CSR yang dilakukan untuk meningkatkna perekonomian masyarakat dengan memperhatikan kebutuhan masyarakat.
  2. Masyarakat : penduduk yang tinggal di sekitar wilayah perusahaan dan terlibat dalam program pengembangan UMKM.
  3. Strategi Pengembangan UMKM : merupakan hasil gabungan pendapat stakeholder untuk menentukan apa upaya terbaik yang akan dilakukan untuk membuat UMKM lebih baik di masa datang.
  4. Bantuan ; yang diberikan berupa Community Development yang dalam hal ini dapat berupa bantuan modal, pelatihan teknis, pemasaran produk, pengawasan usaha dan pelatihan manajemen.
  5. UMKM : usaha informal yang kapasitasnya berupa home industry biasa dijalankan oleh masyarakat kecil dan belum mempunyai badan hokum.
  6. Perekonomian Masyarakat Lokal : digambarkan dengan jumlah pendapatan masyarakat, apakah ada peningkatan sebelum dan sesudah adanya pengembangan UMKM.
  7. Keberlanjutan : merupakan lama bertahannya program yang dijalankan dalam rentang waktu yang tidak terbatas hanya satu periode saja.

2.5 Definisi Operasional

Dampak bagi perusahaan adalah efek yang terjadi pada perusahaan setelah mengimplementasikan CSR, efek ini meliputi tingkat citra perusahaan di mata masyarakat. Perhitungan tingkat partisipasi sebagai berikut :

N Max = 50                      N Min = 10                 ∑k = 3

 

N = Max – Min = 50 – 10 = 40 = 13

∑k                3           3

Keterangan :

N               = batas selang

Max           = nilai maksimum yang diperoleh dari jumlah skor

Min           = nilai minimum yang diperoleh dari skor

∑k = jumlah kategori

Sehingga skor tingkat citra perusahaan dibagi dalam tiga kategori, dengan skor sebagai berikut :

  1. Kurang baik          : x < 13
  2. Baik                      : 14< x < 26
  3. Sangat Baik           : 27 < x < 50

 

 

BAB III

Metodologi Penelitian

3.1  Metode Pengumpulan Data

3.1.1        Teknik Penarikan Sampling

Subyek dalam penelitian ini terdiri dari informan dan responden. Informan merupakan pihak yang dianggap banyak mengetahui tentang lingkungannya sehingga dapat memberikan informasi lenih dalam, sedangkan responden merupakan pihak yang memberi keterangan dalam dirinya. Dalam hal ini informan adalah warga kampung Desa X yang memiliki usaha mikro kecil menengah dan tergabung dalam koperasi binaan PT GHI. Unit analisis dalam penelitian ini adalah rumahtangga pengerajin UKM dan tergabung dalam koperasi binaan PT GHI. Teknik sampling yang digunakan adalah Simple Random Sampling. Teknik ini digunanakan karena satuan penelitian seragam yaitu rumahtangga pengerajin UKM.

3.1.2        Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data digunakan untuk memperoleh data primer dan data sekunder yang digunakan dalam menjawab pertanyaan penelitian. Data primer yang diperoleh dari subyek penelitian yang terdiri dari informan dan responden. Data primer diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi lapang, dan pengisian kuisioner. Data sekunder merupakan dokumen-dokumen yang terkait seperti data profil kelurahan, data profil koperasi, agenda kegiatan data kependudukan dan lain-lain. Teknik pengambilan data yang dilakukan pertama, melalui penelusuran pustaka (buku, artikel, laporan penelitian, dokumen) yang relevan dengan kajian penelitian. Kedua, wawancara mendalam dengan pihak kelurahan, aparat desa dan warga setempat yang dianggap banyak mengetahui keadaan sekitar. Ketiga observasi sepanjang penelitian.

3.2  Metode Pengolahan Data

Teknik pengolahan data dilakukan untuk memperoleh informasi mengenai kesejahteraan penduduk melalui tingkat pendapatan rumahtangga pengerajin. Selain itu informasi mengenai citra perusahaan dimata masyarakat yang bergabung dalam pengembangan koperasi hasil usaha mikro kecil dan menengah.

3.3  Metode Analisis Data

Teknik analisis data kualitatif dilakukan melalui tiga tahap yaitu reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan.

3.3.1        Reduksi Data

Reduksi data terdiri dari proses pemilihan, penyederhanaan, pengabstrakan dan transformasi data yang berupa catatan-catatan tertulis di lapangan selama penelitian berlangsung. Reduksi data bertujuan untuk menajamkan, menggolongkan mengarahkan, membuang data yang tidak perlu.

 

3.3.2        Penyajian Data

Penyajian data dilakukan dengan cara menyusun sekumpulan informasi agar mudah dalam proses penarikan kesimpulan. Penyajian data dalam penelitian ini disajikan dalam bentuk teks naratif berupa catatan lapang.

3.3.3        Penarikan Kesimpulan

Penarikan kesimpulan yang mencakup verifikasi atas kesimpulan terhadap data yang dianalisis agar menjadi lebih rinci. Data kualitatif diolah dengan proses editing, coding, scoring, entrying, cleaning, serta analyzing dengan menggunakan program computer Microsoft Exel For Windows. Data yang didapatkan dilakukan editing, untuk mengecek kelengkapan pengisian kuesioner, setelah itu dilakukan coding di buku kode untuk mempermudah pngolahan data, system scoring dibuat konsisten yaitu semakin tinggi skor smakin tinggi kategorinya. Setelah dijumlahkan dan selanjutnya data mengenai tingkat citra perusahaan dimata masyarakat di kategorikan dengan menggunakan teknik scoring secara normative yang dikategorikan berdasarkan interval kelas :

N = Max – Min

∑k

Keterangan :

N       = batas selang

Max   = nilai maksimum

Min    = nilai minimum

∑k     = jumlah kategori

Pengelompokan jumlah kategori adalah sebagai berikut :

Rendah/kurang         = x < skor min + interval kelas

Sedang = skor min + interval kelas < x’ < skor min + 2 interval kelas

Tinggi                       = x’’ > skor minimum + 2 interval kelas

Setelah scoring data dilakukan entrying, cleaning, serta analyzing secara deskriptif dan statistic. Hasil analisis diinterpretasikan untuk memperoleh suatu kesimpulan terhadap tingkat citra perusahaan.

 

DAFTAR PUSTAKA

Dipta, I Wayan. 2008. Startegi penguatan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) melalui kerjasama kemitraan pola CSR. INFOKOP VOLUME 16 september 2008 (62-75).

Djajadiningrat, dkk. 2003. Akses peran serta masyarakat : lebih jauh memahami community development. Jakarta : Indonesia Center for sustainable development.

Maulana, Muhammad Reza. 2009. Peranan corporate social responsibility (CSR) PT Rekayasa Industri dalam upaya pengembangan masyarakat. Skripsi. Institute petanian bogor.

Nasdian, fredian tonny. 2006. Pengembangan masyarakat (community development). Bogor: bagian sosiologi pedesaan dan pengembangan masyarakat departemen komunikasi dan pengembangan mayarakat. Instirut pertanian bogor.

Singarimbun, M dan Effendi, S. 1989. Metode penelitian survey. Jakarta: LP3ES.

Sulisto, Suryo B. 2005. “ peran UKM sangat besar dalam selamatkan perekonomian bangsa “. http://www.kapanlagi.com/h/0000061409.html diakses tanggal 28 Desember 2010 pukul 13.05

Susanti, Lussi. Pengembangan Usaha Kecil dan menengah dalam pelaksanaan Corporate Sosial responsibility (studi kasus perusahaan geothermal di kecamatan kabandungan, kabupaten sukabumi, provinsi jawa barat). Skripsi. Institute pertanian bogor.

Wibisono, Yusuf. 2007. Membedah konsep dan aplikasi CSR (corporate social responsibility). Gresik : fasco publishing.

 

Widiamega, Arlita Puji. 2010. Evaluasi Program Pembinaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) sebagai Implementasi Corporate Social Responsibility (Kasus Program Pembinaan UMKM Yayasan Dharma Bakti Astra). Skripsi. Institut Pertanian Bogor.

 

LAMPIRAN

  1. Rancangan Tabel Kerangka Sampling
No. Nama Alamat Jenis Usaha Lamanya bergabung dengan koperasi
         

 

 

Kuesioner Penelitian

Petunjuk :

Isilah jawaban pada titik-titik (…) serta berilah tanda (x) pada setiap (  ) yang sesuai dibawah ini.

  1. Karakteristik Responden

1. Nama                          :

2. Umur                           :

3. Jenis Kelamin              :

4. Alamat                                    :

5. Status Kependudukan : (  ) asli           (  ) pendatang

6. Pendidikan Terakhir    :

(  ) tidak sekolah

(  ) tidak tamat SD

(  ) tamat SD/Sederajat

(  ) tamat SMP/Sederajat

(  ) tamat SMA/Sederajat

(  ) Lainnya…..

  1. Ekonomi Responden
    1. Jumlah Tanggungan

7.Berapa jumlah anggota keluarga anda (termasuk anda)?……….orang

8. Berapa jumlah anggota keluarga yang menjadi tanggungan anda (selain anda)? ………orang

9. Apakah anda mempunyai anak (usia sekolahan) yang masih bersekolah?          (   ) Ya                       (  ) Tidak (langsung ke no.11)

10. Berapa jumlah anak anda yang masih bersekolah? …. orang

  1. Tingkat Pendapatan Rumah Tangga

11. Apakah anggota keluarga anda ada yang sudah bekerja (selain anda)?

(  ) Ya                        (  ) Tidak (langsung ke no. 15)

12. Berapa jumlah anggota keluarga anda yang sudah bekerja? …..orang

13. Apakah anggota keluarga anda yang sudah bekerja tersebut ikut membantu dalam memenuhi kebutuhan keluarga ?

14. Berapa total pendapatan rumah tangga anda?

RP………………/bulan

15. Apakah pendapatan tersebut dapat mencukupi kebutuhan keluarga anda (terutama dalam hal konsumsi)? (  ) Ya                        (  )Tidak

 

Rancangan Analisis

Hasil Perhitungan Citra Perusahaan

No Kode Responden Skor Citra Kategori Citra
     

 

Maret 24, 2011 at 4:04 pm Tinggalkan komentar

yang disuka

sumpah..
tak ada lagi kesempatanku untuk bisa bersamamu..
kni ku tahu bagaimana caranya untuk dapat trus denganmu..

bawalah pergi cintaku..
aja kemana kau mau..
jadikan temanmu..
temanmu paling kau cintaa..
disini ku pun begitu..
trus cintaimu dihidupku..
di dalam hatiku..
sampai waktu yang pertemukan..
kita nanti…

lagu afgan mungkin cuma harapan dari hati kecil ini.
wuaa….
tidak menyangka saya akan jatu cinta lai dengan cara yang sama. tidak peduli orang itu siapa, bagaimana fisiknya, bagaimana sifatnya. saya telah menyukai dia. sayangnya dia sedang menyukai orang lain. dan saya menjadi orang yang beruntung untuk tau siapa yang dia suka.
heii…
apa kabar perasaan saya waktu denger cerita dia. yaa..bisa dilihat dia menganggap aku sebagai sahabatnya.
masih sangat terbayang setiap gerak gerik dy di ingatan saya. detailnya pun saya sedikit bayak tau. apalagi kalo dy sakit. sedih rasanya. pengen banget selalu nemenin dy. kasi perhatian. tapi itu ga bisa. sedih kan..
T.T fufufuufu
setelah tau wanita pilihan dy. ya aku cuma bisa berharap. wanita itu bisa jadi wanita terbaik yang dy pilih. smoga.. amin..
dengan mendoakan dy smoga dy akan selalu mengingat aku.
ga peduli dy bersama siapa.. yang penting dy bahagia..
dan mungkin hanya yang terbaik untuk kita berdua.
^^

Desember 12, 2010 at 11:01 pm Tinggalkan komentar

Pos-pos Lebih Lama


Bogor Agricultural University (IPB)

IPB Badge