Tugas pertama yang berasal dari lubuk hati yang terdalam #edisi lebay

April 24, 2011 at 1:13 pm 1 komentar

Refleksi Diri yang Menyangkut Latar Belakang Nilai-Nilai Keluarga, Persepsi Nilai Gender dan Cita-Cita Masa Depan

Radini Ayu Pratiwi merupakan nama yang diberikan oleh kedua orang tua saya, namun nama tersebut dibuatkan oleh kakek saya. Radini merupakan gabungan dari nama ibu (Ra), ayah (Di) dan bidan (Ni) yang membantu saya hadir di dunia ini. Sedangkan nama ayu berarti cantik yang berasal dari bahasa jawa dan pratiwi berarti putri pertama. 20 tahun yang lalu tepatnya pada hari Kamis, 28 Maret 1991 saya lahir kedunia ini setelah tumbuh dan berkembang dalam rahim ibu saya selama sembilan bulan lamanya.
Hari demi hari berlalu saya pun mengalami perubahan dan perkembangan. Hingga pada bulan Maret 2011 usia saya genap 20 tahun, dengan usia yang telah menginjak masa awal dewasa. Di usia ini satu persatu impian saya terwujud, salah satunya dapat melanjutkan studi di perguruan tinggi yaitu di Institut Pertanian Bogor tepatnya di Departemen Sains Komunikasi dan Pengembagan Masyarakat. Program studi yang saya jalani memberikan banyak ilmu pengetahuan mengenai masyarakat lebih jauh. Selain itu saya juga berkesempatan untuk mengenal teman-teman dari luar daerah, serta mengetahui kebudayaan mereka masing-masing sehingga pengalaman hidup saya dapat bertambah.
Saya sendiri berasal dari kota mochi yaitu Sukabumi, namun saya bukan berasal dari suku sunda asli. Ayah saya berasal dari semarang dan ibu saya berasal dari Bogor. Saya lahir dan besar di Sukabumi dan saya menganggap saya terbiasa dengan menyebut diri saya suku sunda. Tinggal di Bogor tidak menyulitkan karena saya sudah terbiasa tinggal di lingkungan suku Sunda. Kebudayaan yang tidak berbeda jauh tidak membuat saya merasa asing dan jauh dari kampung halaman.
Bisa dikatakan kuliah dan tinggal di Bogor sangat memungkinkan saya untuk tidak mandiri dan bisa pulang pergi. Namun hal tersebut bertolak belakang dengan kenyataannya. Saya lebih sering tinggal di Bogor dan jarang sekali pulang kerumah. Karena kegiatan saya pada hari libur akhir pekan sangatlah padat.
Di Bogor saya tinggal di kos-kosan milik bibi saya di Babakan Lio no 9 RT 01/07 desa babakan Dramaga Bogor. Kosan saya berisi enam orang anak S1 yang kebetulan satu angkatan dengan saya dan satu anak S2. Walaupun kos-kosan kami sederhana namun kesan kekeluargaannya sangatlah hangat dan dekat. Sehingga saya betah walaupun harus jauh dari rumah. Perbedaan sikap dan kebudayaan dari masing-masing penghuni membuat saya bisa lebih belajar menghargai perbedaan diantara masing-masing pribadi seseorang dan menganngap mereka seperti keluarga saya sendiri.
Keluarga saya sendiri terdiri dari Ayah, Ibu dan dua adik saya. Ayah saya kini berumur 50 tahun dan ibu saya berumur 42 tahun. Saya terpaut usia yang sangat jauh dengan adik saya, adik yang pertama kini berumur 12 tahun dan adik yang ke dua berumur 5 tahun. Saya berasal dari keluarga yang sangat sederhana. Di usianya yang sekarang ayah saya masih harus membanting tulang untuk memenuhi kebutuhan keluarga juga membiayai sekolah saya sebagai karyawan swasta. Begitu pula ibu yang kini menjadi guru honorer di sebuah taman kanak-kanak. Penghasilan mereka perbulan sebesar 2 juta rupiah. Walaupun begitu kami dapat belajar bersyukur lebih banyak atas berkah dan kenikmatan yang hingga kini masih diberikan kepada keluarga kami.
Saya sangat berbahagia bisa hadir dalam keluarga yang sangat sederhana namun kaya akan kasih sayang serta memiliki keunikan tersendiri dalam mengungkapkan perhatiannya. Semua anggota keluarga saya tidak menampakkan perhatian mereka secara terang-terangan. Ayah saya yang otoriter dalam menjalani perannya sebagai kepala rumah tangga jarang sekali menanyakan kabar maupun kegiatan anak-anaknya. Namun setiap kami juara kelas ataupun berulang tahun selalu ada keutan kecil, entah itu kado kecil disaat bangun tidur maupun mentraktir apa yang kami inginkan. Dengan reinforcement yang kami dapatkan dari ayah membentuk pribadi kami menjadi disiplin dalam melakukan sesuatu hal. Berbeda dengan ayah, ibu kadang kala menjadi tempat kami berlindung dari ketegasan ayah. Ibu memiliki sikap pendiam dan terkesan ‘legowo’ namun dibalik itu semua ia memiliki ‘power of mom’ dalam mendidik anak-anaknya. Ibu tak pernah menuntut dan memaksakan kehendak kepada anak-anaknya. Ia selalu mendukung apa yang menurut kami dan ibu adalah terbaik untuk semua. Ibu juga bukanlah orang yang dapat mengungkapkan rasa sayangnya secara langsung, hal kecil yang masih selalu saya ingat adalah setiap ia selesai ‘curhat’ malam ia selalu menciumi kening anak-anaknya hingga sekarang. Dari ibu saya belajar kesabaran dalam menghadapi segala hal dan memandang masalah dari berbagai sudut pandang, meskipun terkadang sikap perfeksionis dari ayah masih terbawa namun saya selalu berusaha menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
Saya adalah saya, tidak bisa disamakan dengan orang lain karena setiap masing-masing individu memiliki kepribadian yang unik. Saya dibesarkan di keluarga yang ‘implisit’ dalam mengungkapkan sesuatu. Namun hal tersebut membentuk sikap pribadi saya yang lebih suka mengutarakan sesuatu secara langsung dibandingkan dengan hanya menyiratkannya saja. Saya adalah tipe orang yang sanguinis terkadang saya menjadi kritis dalam mengomentari suatu hal yang bertujuan untuk merubah hal tersebut mejadi lebih baik lagi. Saya masih memiliki kesulitan dalam hal mengucapkan kata tidak untuk orang yang meminta pertolongan karena rasa kasihan saya yang tinggi. Selain itu saya memiliki sifat ‘moody’ jika perasaan saya sedang buruk saya lebih suka menenangkan hati dengan mandi. Jika saya sedang berada di dalam tekanan saya akan lebih sering mandi atau berlama-lama di kamar mandi bahkan hanya bermain air dan memandangi air dalam bak mandi agar fikiran saya kembali tenang hingga banyak teman saya yang menjuluki saya si tukang mandi.
Dalam kehidupan sosial, saya memiliki hubungan sosial yang cukup baik dengan orang tua, keluarga, sahabat maupun teman. Walaupun saya tinggal jauh dengan mereka namun saya tetap menjalin komunkasi melalui handphone. Baik itu dengan menelpon maupun sms. Agar mereka mengetahui keadaan saya dan begitu pula sebaliknya. Selain dengan handphone kini komunikasi dapat dilakukan melalui jejaring sosial seperti facebook yang dapat menyampaikan apa yang sedang kita fikirkan, menyapa teman lama ataupun melakukan obrolan. Selain facebook kini ada akun twitter, yahoo messenger dan skype yang saya gunakan untuk menunjang komunikasi saya dengan orang banyak karena saya sangat senang jika dapat teman banyak karena dapat berbagi pengalaman lebih banyak pula.
Berkeluarga merupakan suatu pengambilan keputusan yang tepat bagi seorang individu, karena dengan memiliki keluarga kita bisa saling berbagi kasih sayang, perhatian, pembelajaran tentang hidup, kedewasaan dan kebahagiaan. Keluarga adalah harta yang bernilai tinggi bagi saya. Motivasi, kasih sayang, perhatian, dan masih banyak lagi yang bisa didapatkan dalam sebuah keluarga. Dengan berkeluarga, kita bisa belajar cara berkomunikasi yang baik antar anggota keluarga, baik suami-istri maupun orangtua-anak. Orangtua saya sering menyampaikan pentingnya sebuah keluarga, jika tidak ada keluarga serasa apa yang kita lakukan itu tak berarti, karena tidak ada orang-orang yang menemani kita dan mau berbagi dengan tulus dan tanpa pamrih, ibu saya pernah mengatakan kelak ketika saya telah berkeluarga, saya harus mampu menjaga keharmonisan keluarga dan berusaha memberikan yang terbaik untuk anggota keuarganya.
Sebagai perempuan, saya memiliki impian mendapatkan pasangan hidup yang dapat membahagiakan saya secara lahir dan batin. Namun, untuk mendapatkan hal itu, tentunya saya harus menjadi perempuan yang dapat membahagiakan pasangan saya kelak karena bila kita menginginkan sesuatu, maka kita harus melihat diri kita sendiri sudah sebaik mana dan sepantas mana untuk mendapatkan hal yang kita inginkan dengan kata lain kita harus merefleksikan diri terlebih dahulu tentang hal yang ada dalam diri kita. Perempuan memang selalu ingin dimengerti. Namun, menjadi seorang perempuan adalah hal yang membanggakan bagi saya, karena perempuanlah yang melahirkan para jagoan tangguh, perempuanlah yang mengalami kehamilan, perempuanlah yang lebih berperasaan, perempuanlah yang mampu menahan sakit ketika ia disakiti, perempuanlah yang lebih mampu mengendalikan emosinya, perempuanlah yang menerbitkan terang dalam kegelapan, perempuan yang lebih peduli, perempuan selalu berusaha memahami orang disekitar, perempuanlah yang bisa menjadi penenang kegundahan para lelaki dan perempuanlah yang berada dibalik lelaki hebat. Ibu saya pernah mengatakan menjadi perempuan itu harus bisa menjaga kodratnya sebagai perempuan.
Suatu saat nanti, ketika saya sudah menikah, hal yang paling saya tunggu adalah masa kehamilan, karena saya akan merasakan perasaan seorang perempuan yang akan menjadi seorang ibu. Bagi saya, menjadi seorang ibu adalah sebuah anugerah, karena saya dapat memiliki buah hati dapat menjadi tempat mencurahkan kasih sayang. Ibu menjadi sumber utama kasih sayang yang tulus untuk anaknya, tidak pernah meminta imbalan akan apapun yang diberikan kepada anaknya. Menjadi ibu adalah sebuah kepercayaan dan tantangan yang diberikan Allah, kepercayaan dan tantangan bahwa ibu dapat mengasuh dan membesarkan anaknya dengan baik, memunculkan generasi-generasi penerus yang tangguh dan dahsyat. Ketika saya menceritakan hal ini kepada ibu saya ia mengatakan bahwa menjadi seorang ibu itu harus sabar, jangan mudah naik pitam apalagi jika anaknya aktif, akan membuat ibu lelah mengasuh dan menemani anak sehari-hari, tapi itu adalah kenikmatan yang harus disyukuri.
Untuk dapat mengasuh dan merawat anak dengan baik, tentunnya dibutuhkan perekonomian keluarga yang baik. Hal ini bisa dicapai jika anggota keluarga memiliki sumber pendapatan yang baik, khususnya seorang suami. Namun, bukan berarti istri berdiam diri. Tidak ada salahnya jika seorang istri membantu perekonomian keluarganya agar kesejahteraan hidup bisa tercapai. Jika dilihat dengan konteks sebagai perempuan, pekerjaan adalah suatu wadah aktualisasi diri, kita dapat memerlihatkan potensi yang dimiliki melalui pekerjaan dan mencapai kepuasan pribadi yang bersangkutan. Jika dilihat dari konteks sebagai seorang istri dan ibu, pekerjaan adalah bukan hanya sebagai wadah aktualisasi diri, melainkan sebagai usaha untuk mempertahankan hidup dan mencapai kesejahteraan yang ingin dicapai dalam keluarga, karena beda keadaan dan kebutuhan antara seorang perempuan yang telah menikah dan memiliki anak. Tentu saja, kebutuhan perempuan yang sudah menikah dan memiliki anak lebih besar daripada perempuan yang masih melajang. Bahkan perempuan yang sudah menjadi seorang ibu rela melakukan apapun untuk kebahagiaan anaknya. Ketika saya menyampaikan bahwa kelak saya ingin menjadi ibu dan juga wanita karir, orangtua saya menasehati agar memilih pekerjaan yang tidak menguras waktu dan tenaga sehingga urusan keluarga terbengkalai. Pilih pekerjaan yang saya suka dan nyaman melakukanya. Sesibuk apapun saya nanti, keluarga harus menjadi prioritas utama, harus ada waktu luang dan perhatian yang diberikan untuk keluarga, terutama anak yang masih benar-benar membutuhkan pengasuhan dari ibunya.
Anak adalah harta yang paling berharga bagi orangtua. Seorang anak merupakan motivator atau penyemangat untuk kedua orangtuanya. Anak bahkan menjadi kunci keharmonisan bagi pasangan suami-istri yang telah memiliki anak. Suatu hari saya dikejutkan dengan nasihat ayah, ia menyampaikan bahwa anak adalah bintang harapan yang akan menerangi keluarganya, harus dijaga dengan baik dan dirawat agar pancaran sinarnya semakin terang dan hangat. Mungkin terlalu puitis, tapi memang itulah harapan ayah pada anaknya, menjadi penerus keluarga yang akan memperbaiki kehidupan keluarganya dari berbagai aspek. Ibu pernah menyampaikan bahwa anak merupakan penyemangat untuk bekerja, ketika ibu merasa lelah maka ibu akan mengingat anaknya, setelah itu semangat ibu kembali dan rasa lelah pun pergi. Dengan demikian, sebagai anak saya ingin selalu memberikan senyum bangga dan senyum rasa terima kasih untuk kedua orangtua saya.
Jika mengingat nasehat-nasehat dari kedua orangtua saya tersebut, yang terlintas dibenak saya adalah lakukan nasehat dan pesan itu untuk menjalani kehidupan, khususnya untuk menggapai cita-cita. Setelah lulus nanti sebenarnya saya ingin melanjutkan kuliah S2 di luar negeri dengan cara mencari beasiswa, namun hal yang akan saya lakukan terlebih dahulu adalah menjalani tugas saya sebagai seorang anak sulung. Saya akan menggantikan ayah saya menjadi tulang punggung keluarga dan membiayai adik-adik saya hingga mereka menempuh perguruan tinggi. suatu saat nanti jika saya mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan saya ke jenjang yang tinggi maka saya akan memanfaatkannya sebaik mungkin. Selain itu, harapan yang paling ingin terwujud adalah bisa melanjutkan pendidikan S2 di salah satu negara yang saya suka yaitu Jerman, Amerika, atau negara-negara Eropa.
Lain lagi dalam hal berkeluarga, cita-cita saya adalah memiliki keluarga yang harmonis dengan keunikkan individu-individu di dalamnya. Saya ingin menikah di usia maksimal 25 tahun dan memiliki suami yang sayang serta pengertian terhadap saya, begitu juga keluarganya. setelah menikah nanti, saya ingin memiliki dua orang anak mengikuti program keluarga berencana, satu orang anak laki-laki dan perempuan. Saya berharap bisa melahirkan anak kembar sekaligus. Saya ingin membangun komunikasi yang baik antar anggota keluarga dengan memilih gaya pengasuhan demokratis untuk anak-anak dan melayani suami dengan baik. Keterbukaan, rasa saling menghargai, kepedulian, kasih sayang dan kejujuran harus dibina dengan baik dalam keluarga saya nanti agar menghasilkan individu-individu yang baik budi pekertinya. Anak yang sholeh-soleha, patuh, cerdas, sopan, jujur, displin menjadi dambaan saya.
Untuk dapat mewujudkan impian-impian saya dalam bekeluarga, tentunya harus didukung dengan maksimalisasi peran orang-orang yang terlibat di dalamnya. Sebagai perempuan, istri dan seorang ibu, saya harus bisa memposisikan diri dengan baik. Saya harus bisa melayani suami, mengasuh anak, dan menyelesaikan pekerjaan rumah dengan baik. Tetapi perempuan bukanlah objek yang bisa dimanfaatkan semena-mena, perempuan dan laki-laki dilahirkan dengan memiliki potensi yang sama, maka mereka punya kesempatan yang sama untuk mencapai hal yang diinginkan. Namun, tetap saja harus saling menghargai. Perempuan boleh bekerja keras untuk mencapai cita-citanya, tapi perempuan tidak boleh melupakan kodratnya sebagai perempuan. Begitu pula laki-laki, mereka boleh menganggap bahwa mereka lebih berkuasa atas perempuan, tapi bukan berarti mereka bisa bertindak sewenang-wenang terhadap perempuan, mereka juga harus sadar bahwa mereka membutuhkan perempuan untuk melengkapi kehidupannya. Perempuan terlahir bukan untuk disakiti, tapi untuk disayangi.
Saya merasakan pembagian peran antara laki-laki dan perempuan sudah terlaksana dengan baik di keluarga saya, khususnya antara ibu dan ayah. Keduanya sama berusaha memanfatkan sumber daya yang mereka miliki untuk memperolek pendapatan yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Ayah dan ibu sama-sama bekerja. Sebenarnya ayah tidak meminta ibu untuk bekerja, namun ibu ingin membantu ayah untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, dan jika dua orang yang bekerja maka kesejahteraan finansial keluarga akan lebih cepat tercapai dibanding jika hanya satu orang saja yang bekerja. Ibu memilih menjadi pengajar di taman kanak-kanak. Meskipun demikian, ibu tetap mampu menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan rumah dan merawat anak dengan maksimal. Saya tidak pernah merasa kekurangan kasih sayang dan waktu dari ibu saya. Saya bangga dengan ayah saya, karena disela sela kesibukkannya bekerja, ayah masih sempat dan mau membantu ibu melakukan pekerjaan rumah bahkan mengasuh anak-anak, sehingga ibu dapat menyeselesaikan pekerjaan rumah dengan cepat. Seperti inilah yang saya inginkan jika saya sudah berkeluarga kelak. Saya dan suami saya bekerja untuk memenuhi kebutuhan dan kami pun menyelesaikan pekerjaan rumah dan mengasuh anak bersama-sama.

>> ini tugas apa curhatan yah?? hahahhaha😛

Entry filed under: Uncategorized. Tags: .

Perilaku Konsumen : Proses belajar Konsumen BUDAYA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Bogor Agricultural University (IPB)

IPB Badge


%d blogger menyukai ini: